TAXONOMI SOLO untuk Pembelajaran Mendalam

Implementasi Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Kurniati Saiutami, S.S., M.Pd


Sumber : Kurniati Saiutami

Pendahuluan

Transformasi pendidikan pada abad ke-21 menuntut perubahan paradigma pembelajaran dari sekadar penguasaan materi menuju pemahaman mendalam dan bermakna. Pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi pendekatan yang menekankan keterlibatan aktif peserta didik dalam membangun pengetahuan, mengaitkan konsep, serta menerapkan pemahaman dalam berbagai konteks kehidupan nyata.

Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pembelajaran mendalam dipandang sebagai upaya untuk mengembangkan kompetensi berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan reflektif. Oleh karena itu, guru dituntut tidak hanya merancang aktivitas pembelajaran yang bermakna, tetapi juga menggunakan kerangka penilaian yang mampu menggambarkan kualitas pemahaman peserta didik secara utuh. Salah satu pendekatan yang relevan untuk tujuan tersebut adalah Taksonomi SOLO.

Taksonomi SOLO dikembangkan oleh Biggs dan Collis sebagai alat untuk mengklasifikasikan hasil belajar berdasarkan tingkat kompleksitas pemahaman peserta didik. Berbeda dengan taksonomi yang berfokus pada proses kognitif, Taksonomi SOLO menekankan pada struktur dan kualitas hasil belajar yang ditunjukkan oleh peserta didik. Hal ini menjadikan Taksonomi SOLO selaras dengan prinsip pembelajaran mendalam.


Konsep Taksonomi SOLO

Rangkuman Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran Mendalam

Taksonomi SOLO (Structure of Observed Learning Outcomes) merupakan kerangka konseptual yang digunakan untuk mengklasifikasikan kualitas hasil belajar peserta didik berdasarkan tingkat kompleksitas pemahamannya. Taksonomi ini menitikberatkan pada struktur respons belajar yang ditunjukkan peserta didik, bukan sekadar kuantitas informasi yang diingat. Dalam konteks Pembelajaran Mendalam, Taksonomi SOLO berfungsi sebagai alat untuk memetakan kedalaman berpikir peserta didik secara bertahap dan berkesinambungan

1. Tingkatan Taksonomi SOLO

Taksonomi SOLO terdiri atas lima tingkat utama sebagai berikut:

  1. Prastruktural (Prestructural)
    Pada tingkat ini, peserta didik belum menunjukkan pemahaman yang bermakna terhadap materi. Respons yang diberikan tidak relevan atau meleset dari tujuan pembelajaran. Peserta didik belum mampu mengidentifikasi konsep dasar yang dipelajari

  2. Unistruktural (Unistructural)
    Peserta didik mulai memahami satu aspek yang relevan dari materi. Pemahaman masih bersifat terbatas dan terfokus pada satu konsep sederhana, seperti mengidentifikasi, menyebutkan, atau mengikuti prosedur sederhana

  3. Multistruktural (Multistructural)
    Peserta didik mampu memahami beberapa aspek yang relevan, namun belum dapat menghubungkan aspek-aspek tersebut secara terpadu. Pengetahuan masih bersifat terpisah-pisah, misalnya dengan cara mendeskripsikan atau membuat daftar konsep tanpa hubungan yang jelas antar konsep

  4. Relasional (Relational)
    Pada tingkat ini, peserta didik telah mampu mengintegrasikan berbagai aspek pengetahuan ke dalam suatu struktur yang koheren. Peserta didik dapat menganalisis, menghubungkan, membandingkan, serta menerapkan konsep secara logis dan bermakna

  5. Abstrak yang Diperluas (Extended Abstract)
    Tingkat tertinggi dalam Taksonomi SOLO, di mana peserta didik mampu melakukan generalisasi pengetahuan ke dalam konteks baru. Peserta didik dapat menciptakan gagasan baru, merumuskan hipotesis, merefleksi secara mendalam, serta mengembangkan teori atau solusi inovatif berdasarkan pemahaman yang dimiliki

2. Taksonomi SOLO dan Pembelajaran Mendalam

Dalam dokumen Pembelajaran Mendalam, Taksonomi SOLO dipetakan secara selaras dengan pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

  • Level Unistruktural dan Multistruktural berkaitan dengan tahap memahami.

  • Level Relasional sejalan dengan tahap mengaplikasi.

  • Level Extended Abstract mendukung tahap merefleksi, yang menuntut kemampuan berpikir abstrak, kritis, dan reflektif secara mendalam

Dengan demikian, Taksonomi SOLO menjadi landasan penting dalam merancang pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kualitas berpikir peserta didik secara bertahap, sistematis, dan bermakna.


Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)

Pembelajaran mendalam merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konseptual, keterlibatan aktif peserta didik, serta kemampuan mentransfer pengetahuan ke konteks yang lebih luas. Pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses berpikir, refleksi, dan pemaknaan.

Ciri utama pembelajaran mendalam meliputi aktivitas belajar yang menantang secara kognitif, keterkaitan antar konsep, pemecahan masalah autentik, serta refleksi berkelanjutan. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendorong peserta didik untuk membangun pengetahuan secara mandiri dan kolaboratif.

Dalam pembelajaran mendalam, penilaian tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur hasil belajar, tetapi juga sebagai bagian integral dari proses pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan kerangka penilaian yang mampu menangkap kualitas pemahaman peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan.


Relevansi Taksonomi SOLO dalam Pembelajaran Mendalam

Taksonomi SOLO memiliki relevansi yang kuat dengan pembelajaran mendalam karena keduanya sama-sama menekankan pada kualitas pemahaman. Melalui Taksonomi SOLO, guru dapat merancang tujuan pembelajaran yang bertahap, mulai dari pemahaman sederhana hingga kemampuan berpikir abstrak dan reflektif.

Dalam perencanaan pembelajaran, Taksonomi SOLO dapat digunakan untuk menyusun tujuan pembelajaran yang selaras dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Pada tahap awal, guru dapat menargetkan tingkat unistruktural dan multistruktural, kemudian secara bertahap mengarahkan peserta didik menuju tingkat relasional dan abstrak diperluas.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, aktivitas belajar dapat dirancang untuk mendorong peserta didik menghubungkan konsep, menganalisis hubungan antar ide, serta menerapkan pemahaman dalam konteks nyata. Sementara itu, dalam penilaian, Taksonomi SOLO membantu guru mengevaluasi sejauh mana peserta didik telah mencapai pemahaman mendalam, bukan sekadar mengingat informasi.


Implikasi bagi Praktik Pembelajaran

Penerapan Taksonomi SOLO dalam pembelajaran mendalam memberikan implikasi positif bagi praktik pembelajaran di kelas. Guru menjadi lebih terarah dalam merancang tujuan, aktivitas, dan penilaian pembelajaran. Peserta didik juga memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna karena proses pembelajaran disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.

Selain itu, Taksonomi SOLO mendorong guru untuk lebih reflektif dalam mengevaluasi efektivitas pembelajaran. Dengan memahami posisi peserta didik pada setiap tingkat SOLO, guru dapat memberikan umpan balik yang konstruktif dan merancang tindak lanjut pembelajaran secara tepat.


Kesimpulan

Taksonomi SOLO merupakan kerangka yang relevan dan efektif dalam mendukung implementasi pembelajaran mendalam. Melalui pengelompokan hasil belajar berdasarkan tingkat kompleksitas pemahaman, Taksonomi SOLO membantu guru merancang pembelajaran dan penilaian yang berorientasi pada pemahaman bermakna. Integrasi Taksonomi SOLO dalam pembelajaran mendalam berkontribusi pada peningkatan kualitas proses dan hasil belajar peserta didik, serta mendukung terciptanya pembelajaran yang adaptif dan berkelanjutan.


Daftar Pustaka

Biggs, J., & Collis, K. (1982). Evaluating the quality of learning: The SOLO taxonomy. New York: Academic Press.

Biggs, J., & Tang, C. (2011). Teaching for quality learning at university. Maidenhead: Open University Press.

Fullan, M. (2021). Leading in a culture of change. San Francisco: Jossey-Bass.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022). Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.

Contoh penerapan pada RPM https://docs.google.com/document/d/1yZLNz8Oi1zkqwKGWNOaUfdKPMro4rJnn/edit?usp=sharing&ouid=100288001754005303308&rtpof=true&sd=true